Si Jenius dari Indonesia

MEMAKAI celana jins cokelat muda dan baju lengan pendek merah, ia melangkah ringan menuju kantornya. Hari masih pagi, sekitar pukul 08.00. Suasana bank swasta di Jalan Embong Malang, Surabaya, itu masih sepi. Tapi gadis berkulit putih bersih ini segera larut dalam pekerjaan begitu ia duduk di kursi kerjanya. Sambil memelototi layar komputer, ia sibuk membalas e-mail.

Seorang nasabah tiba-tiba menghubunginya lewat telepon, meminta gadis 16 tahun itu agar mencetakkan saldo rekening miliknya. Dia melayani dengan gesit, lalu mengirimnya lewat faks. Tak lama berselang, nasabah yang lain meminta daftar deposito. Permintaan ini pun dilayani dengan cekatan.

Setelah serbuan telepon dari luar reda, ia berinisiatif mengangkat gagang telepon, lantas memencet sejumlah nomor. Rupanya ia berusaha merayu sejumlah orang agar bersedia menjadi nasabah di bank itu. “Tugas saya memang mencari nasabah baru,” ujarnya kepada Tempo.

Dialah Maria Audrey Lukito, seorang karyawan baru di bagian pemasaran. Kendati masih imut, jangan bayangkan ia lulusan SMU atau SMEA. Audrey adalah sarjana fisika lulusan The College of William and May di Virginia, Amerika Serikat. Dia menyelesaikan kuliahnya pada Maret lalu dengan prestasi luar biasa. Tak hanya menjadi lulusan termuda, ia juga mendapat predikat summa cum laude, dengan nilai rata-rata 3,95.

Karena prestasinya, Audrey pernah diundang secara khusus oleh radio Voice of America di Washington DC, untuk diwawancarai. Pada Maret lalu, ia pun mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai sarjana fisika termuda.

Sesudah lulus, gadis yang suka melukis itu memilih pulang ke Surabaya dan bekerja di bank yang tak jauh dari rumahnya. Audrey tinggal bersama kedua orang tuanya?pasangan Budi Loekito (51 tahun) dan Natali Angela?di Perumahan Villa Bukit Mas, Surabaya.

Kamis pekan lalu, Tempo mengikuti kegiatan Audrey yang baru bekerja di bank sejak 1 April lalu. Si jenius berangkat ke kantor bareng ayahnya yang bekerja di perusahaan Wing di Gresik. Pagi-pagi mereka meluncur dari rumahnya dengan menggunakan mobil Kijang tahun 1990-an yang dikemudikan seorang sopir. Hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai kantor Audrey. Setelah gadis ini turun di depan kantornya, mobil meluncur lagi menuju kawasan Gresik, tempat ayahnya bekerja.

Di kantornya, tentu saja Audrey juga menjadi karyawan termuda yang bergelar sarjana. Toh, gadis periang yang mengaku belum punya pacar ini tak sulit berbaur dengan orang-orang yang lebih dewasa. “Sejak kecil, saya sudah terbiasa berteman dengan orang yang lebih dewasa,” katanya.

Sebetulnya Angela tidak setuju putrinya semata wayang ini sudah mencari uang dalam usia yang masih muda. Dia ingin anaknya melanjutkan lagi kuliahnya, tapi Audrey ngotot memilih bekerja. “Saya sempat melarangnya, tapi ia tak mudah diatur,” ujar sang ibu.

Audrey, yang lahir di Surabaya pada 1 Mei 1988, sudah menunjukkan keistimewaannya sejak kecil. Ketika baru bisa bicara, rasa ingin tahunya sangat tinggi. Segala hal ditanyakan. Angela mulai menyadari kejeniusan anaknya ketika Audrey berusia 16 bulan. Suatu hari ada tamu bertandang ke rumahnya dan ia menanyakan merek televisi 14 inci yang diletakkan di pojok ruangan. Tiba-tiba Audrey menjawabnya dengan tepat.

Sejak itulah sang ibu merasakan anaknya punya kelebihan. Apalagi, pada usia dua tahun, ia sudah lancar membaca. Walau begitu, Angela dan suaminya memperlakukan Audrey seperti anak seusianya. Ia dimasukkan ke play group pada usia 5 tahun, dilanjutkan taman kanak-kanak, lalu SD pada umur 7 tahun.

Di sekolah dasar, kecerdasan Audrey semakin menonjol. Baru di kelas tiga, ia sudah melahap buku berat karya Tolstoy, Machiavelli, sampai Montesquieu. Selalu berada di ranking 1 di kelasnya, ia hanya butuh lima tahun untuk lulus SD.

Ketika duduk di kelas satu SMP Petra I Surabaya, Audrey disarankan agar langsung melompat ke SMU Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Indonesia di Surabaya. Sekolah ini khusus untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan luar biasa. Dasar anak jenius, di sekolah ini pun ia selalu menjadi juara umum.

Doktor Yohanes Surya, Presiden Tim Olimpiade Fisika Indonesia, lalu meminta Audrey pindah ke SMU Dian Harapan di Lippo Karawaci, Tangerang. Di sekolah ini, Audrey, yang sempat masuk semifinal Olimpiade Fisika, hanya perlu waktu dua tahun untuk lulus. Dia kemudian memutuskan untuk belajar fisika di Amerika.

Selama kuliah di Amerika, Audrey mesti mengurus dirinya sendiri. Mula-mula, ia tinggal di asrama putri. Karena teman-temannya melakukan pergaulan bebas, ia jadi tak betah dan kemudian memilih tinggal di tempat kos. Setiap pagi, Audrey berjalan kaki dari tempat kosnya menuju kampus yang berjarak sekitar 3 kilometer. “Dalam kondisi seperti itu, saya tertantang supaya kuliah cepat selesai,” ujarnya.

Usianya yang masih muda membuat ia sering kagok dalam pergaulan. Ketika teman-temannya menonton bioskop, ia tak bisa melakukannya karena masih berumur di bawah 17 tahun. Kalau sakit, Audrey pun tidak bisa datang sendiri ke dokter tanpa ada surat keterangan dari orang tuanya. Untunglah, ia jarang sakit selama kuliah di Amerika.

Hanya butuh waktu tiga tahun, Audrey menyelesaikan sekolahnya di Amerika. Kemampuannya bisa dibilang komplet. Tak hanya pintar dalam pelajaran sulit seperti matematika dan fisika, ia juga bisa melukis, bermain piano, dan menguasai sejumlah bahasa asing, antara lain Inggris, Rusia, dan Prancis. Kemampuan berbahasa asing diperolehnya dengan kursus dan rajin membaca. “Setiap hari saya juga buka kamus,” ujarnya.

Ketangkasan Audrey menguasai hal-hal yang baru juga terlihat saat ia mulai bekerja di bank. Baru sepekan bekerja, ia sudah bisa menjalankan tugasnya sebagai staf pemasaran dengan cekatan. Saat beristirahat siang, ia masih sempat membaca koran. Kesibukan Audrey baru selesai sekitar pukul 15.00. Saat itu pula, mobil ayahnya telah menunggu di halaman kantornya untuk membawanya pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, ia masih sempat membaca buku dan majalah. Kegemarannya memainkan piano semakin jarang dilakukan sejak Audrey bekerja. Padahal biasanya ia suka berjam-jam memainkan lagu-lagu klasik karya Johann Sebastian Bach.

Bagi Audrey, hari Minggu pun bukan waktu untuk bersantai. Pagi hari ia sudah mengajar dasar-dasar iman dan Alkitab di gereja di dekat rumahnya. Siang harinya, dia les privat bahasa Mandarin. Kendati begitu, ia mampu menyelesaikan naskah buku agama yang diberi judul menarik, Al-Kitab Itu Isinya Apa, Sih?.

Hanya, Yohanes Surya menyayangkan pilihan yang kini diambil Audrey. Seharusnya ia langsung mengambil S2 dan S3. Dia bisa meraih gelar doktor dalam usia 19-20 tahun. “Saya belum pernah menemukan anak sejenius Audrey. Penguasaan bahasa asingnya bagus. Dia pintar matematika, fisika, bisa bermain musik, dan spiritualnya juga bagus,” katanya.

Rupanya, Audrey sudah memperhitungkan masak-masak langkah yang diambilnya. Dia sengaja bekerja dulu untuk mencari pengalaman. Alasan lainnya, ingin berbagi ilmu dengan sesamanya. Gadis ini khawatir, jika bersekolah terus, ia akan menjadi orang yang egois. “Dengan bekerja, saya bisa membagikan ilmu kepada siapa saja. Ini adalah bagian dari rasa syukur saya kepada Tuhan,” kata Audrey sambil tersenyum.

Dari rumahnya yang asri di sebuah kawasan di Surabaya, gadis cantik ini pun merancang masa depannya. Setelah 2-3 tahun bekerja, barulah ia ingin melanjutkan studinya di Amerika. “Saya akan mengambil master di bidang bisnis,” ujarnya mantap.

Sumber: majalah.kompasinteraktif.com

2 responses to “Si Jenius dari Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s