Bisakah Indonesia Maju Seperti Jepang?

Jepang, negara kecil yang dulunya sangat tertutup dan memang menutup diri dari bangsa asing. Jepang mulai maju ketika di pimpin oleh kaisar Meiji. Dengan mengirimkan pemuda-pemuda Jepang ke negara asing untuk mempelajari teknologi di sana dan saat itu banyak buku-buku yang ditranslate ke dalam bahasa Jepang dan dijual dengan harga yang murah. Sampai saat ini mungkin masih bisa dirasakan, dimanapun mereka berada masih menyempatkan diri untuk membaca.

Yang perlu kita ketahui adalah rahasia kenapa negara yang pernah diluluhlantakan bom nuklir oleh sekutu itu segera bangkit dan menjadi negara yang terdepan dalam bidang teknologi.  Satu yang melandasi restorasi Meiji adalah mempertahankan kebudayaan dan etos kerja. Meskipun mereka menjadi bangsa yang maju nilai-nilai dasar masyarakat asli Jepang tidak pernah hilang. Nilai-nilai itu terangkum dalam 7 nilai dasar BUSHIDO yaitu:

1. Gi (Pengambilan keputusan berdasarkan kebenaran, meskipun mati dengan keputusan itu, matilah dengan gagah karena matinya terhormat),

2. Yu (Berani dan kstaria,

3. Jin (murah hati, mencintai sesama),

4. Re(Santun, bertindak benar,

5. Makoto (Bersikap tulus, setulus-tulusnya tanpa pamrih),

6. Meiyo(menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan),

7. Chugo (Mengabdi, Loyal).

Begitu hebatnya semangat kerja orang Jepang sehingga disebut sebagai workholic  (turunan dari alcoholic) oleh bangsa-bangsa lain seperti Amerika dan Eropa. Pada waktu perkembangan ekonomi Jepang luar biasa, sehingga seorang sarjana Amerika menulis buku Japan as Number One. Berbagai studi dan buku tentang manajemen Jepang, semangat kerja orang Jepang dll diadakan dan diterbitkan. Perbandingan antara manajemen Jepang dan Barat dilaksanakan, dicari keistimewaannya sehingga bisa ‘mengalahkan’ kemajuan Barat. Orang Amerika dan orang-orang Eropa merasa kuatir dominasi ekonominya terkalahkan. Mereka mendesak orang Jepang agar mengurangi semangat kerjanya. Mereka mendesak agar Jepang mengikuti jejak mereka tidak bekerja pada hari Sabtu. Lima hari dalam seminggu bekerja sudah cukup, kata mereka. Dengan berat hati Jepang mengikuti desakan itu sehingga akhirnya mereka pun secara resmi hari Sabtu diliburkan.

Tetapi, di kalangan orang Jepang sendiri terdengar kecemasan karena melihat generasi muda yang lebih santai dan egoistis dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka cemas akan hari depan bangsa Jepang kalau generasi mudanya tidak lagi memiliki semangat dan etos kerja seperti mereka. Sementara itu, biaya hidup di Jepang kian meningkat. Tenaga kerja kian mahal sehingga industri Jepang tak bisa bersaing dengan negara-negara baru berkembang seperti Korea, Taiwan, Hongkong dan Singapura. Para pemodal Jepang memindahkan pabriknya ke negara-negara berkembang yang tenaga buruhnya lebih murah. Indonesia mula-mula menjadi salah satu negara pilihan untuk menanam modalnya, namun kemudian karena Indonesia kian korup dan tidak ada jaminan hukum, sedikit demi sedikit ditinggalkan. Cina, Thailand, Vietnam, dll. menjadi pilihan yang lebih menarik. Krisis perbankan dan korupsi yang terjadi di Jepang sendiri, melemahkan industri Jepang dan menimbulkan krisis perekonomian yang berkepanjangan.

Oleh karena itu, kalau kita hendak menjadikan Jepang sebagai cermin, akan kelihatan bahwa Jepang berkembang menjadi negara industri pada masa sesudah Perang Dunia II (ketika dia dikalahkan oleh Amerika dan sekutunya), adalah berkat kerja keras mereka sebagai bangsa yang mempunyai etos kerja yang tinggi. Mereka ingin membangun bangsa dan negaranya dari reruntuhan Perang Dunia, maka mereka bekerja dengan penuh kesungguhan sambil benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Setelah mereka mencapai kemajuan yang membuat bangsa-bangsa maju lainnya irihati, mulailah bermunculan penyakit korupsi, egoisme, nepotisme dan berbagai penyakit sosial lainnya yang pada akhirnya menyeret bangsa Jepang ke lembah resesi ekonomi sehingga mereka tak bisa mencapai atau mempertahankan gelar as number one.

Apakah mereka akan keluar dari krisis berkepanjangan yang sekarang mereka alami? Tentu hal itu tergantung kepada usaha dan kerja keras mereka sendiri. Tetapi, konon usaha perbaikan sering menghadapi hambatan karena adanya mentalitas busuk peninggalan masa sedang jaya karena banyak orang yang merasa keenakan dengan kehidupan demikian sehingga enggan untuk mengubahnya– meskipun demi kemajuan bangsa.

Kalau cermin Jepang kita terapkan pada diri kita sendiri: Kapankah dalam sejarah kita setelah merdeka pada tahun 1945 kita pernah bersungguh-sunguh hendak membangun (ekonomi) bangsa sehingga berkembang menjadi negara industri? Memang rencana dan slogan pernah disusun berkali-kali. Tetapi, apakah dalam pelaksanaannya kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh? Lima tahun pertama setelah proklamasi kemerdekaan kita sibuk dengan perang kemerdekaan mengusir Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda dan beberapa negara lain, kita mempunyai dua konsep tentang pembangunan ekonomi bangsa.

Konsep pertama dari Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo, yang menjadi Menteri Kemakmuran dan kemudian Menteri Keuangan, yang menghendaki Indonesia menjadi negara industri, dengan mendirikan pabrik-pabrik bahan yang kita perlukan untuk membangun. Yang pertama mendirikan pabrik semen Gresik, untuk itu kita meminjam uang beberapa ratus juta dolar dari luar negeri. Dengan adanya pabrik semen dan pabrik-pabrik lain diharapkan industri kita akan berkembang pesat. Untuk itu pemerintah menyediakan kredit kepada para pengusaha nasional. Ternyata dalam praktik harapan itu tidak tercapai karena kredit yang diberikan sebagian besar jatuh ke tangan ‘pengusaha aktentas’ yang mendapat rekomendasi dari partai-partainya.

Konsep yang kedua berasal dari Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang ketika itu menjadi Gubernur Bank Indonesia. Konsep beliau berlandaskan kepada pertanian. Menurut beliau, sektor pertanianlah yang harus didahulukan. Untuk itu perlu dibuka jutaan km2 sawah oleh para petani kita. Untuk itu kita tidak usah meminjam uang dari luar karena untuk membuka hutan dan mengerjakan sawah bisa dilakukan dengan alat-alat sederhana seperti cangkul yang bisa kita buat sendiri. Dengan uang beberapa ratus juta dolar yang dipakai untuk memodali pabrik semen Gresik menurut beliau bisa memberi jalan hidup kepada ribuan bahkan jutaan para petani, sedangkan yang akan terlibat dengan kegiatan pabrik semen, termasuk dengan para penyalur, hanya beberapa ribu orang saja.

Karena Prof. Dr. Soemitro ketika itu menduduki jabatan eksekutif, konsep beliaulah yang dilaksanakan. Ternyata dalam praktik harapan agar industri kita berkembang pesat tidak tercapai, karena kredit yang diberikan sebagian besar jatuh ke tangan para pengusaha lisensi, yaitu mereka yang karena mendapat rekomendasi dari partainya mendapat berbagai kemudahan kredit yang digunakan tidak sesuai dengan peruntukan memajukan perindustrian. Oleh karena itu, bukan industri yang berkembang, melainkan korupsi.

Tampil Sukarno berkuasa dengan dukungan Angkatan Darat (Jenderal Nasution) melalui Dekrit Presiden tahun 1959 yang memberlakukan lagi Undang-undang Dasar 1945 dan membubarkan Konstituante yang hampir rampung menyelesaikan pekerjaannya dan kedua konseptor pembangunan ekonomi itu lari dari Jakarta. Dr. Soemitro kabur ke luar negeri karena konon menggabungkan diri dengan kaum pemberontak.

Mr. Sjafruddin sendiri setelah habis cutinya diPalembang tidak mau kembali ke Jakarta dan mengikuti rapat di Sungai Dareh yang memberi ultimatum kepada Presiden Sukarno agar membentuk kabinet secara demokratis. Dan, karena ultimatum itu dijawab oleh pemerintah pusat dengan menjatuhkan bom di Painan, mereka membentuk kabinet tandingan (PRRI) dengan Mr. Sjafruddin Prawiranegara menjadi Perdana Menteri, kemudian menjadi Presiden RPI (Republik Persatuan Indonesia).

Pada masa demokrasi terpimpin, walaupun Soekarno mengumumkan konsep ekonomi terpimpin, ekonomi Indonesia kian hancur karena Soekarno sendiri tidak mengerti ekonomi dan para pembantunya hanya cari muka kepada Pemimpin Besar Revolusi saja.  Soekarno diperlakukan seperti raja yang mementingkan ambisi-ambisinya agar pembantu-pembantunya diberi keleluasaan untuk mempergunakan fasilitas dan menggunakan keuangan  negara.

Pada masa Orde Baru, konsep ekonominya seperti mau menggabungkan konsep Sjafruddin dan Soemitro, namun ilmu korupsi para pejabat kian kronisi sehingga pemerintah Orde Baru menguras habis-habisan minyak bumi, hutan dan kekayaan laut untuk memperkaya diri pejabat dan kroni-kroninya  sehingga Indonesia tetap sebagai bangsa dan negara yang tertinggal, bukan saja di dunia bahkan di Asia.

Referensi: http://training-ethos.blogspot.com

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

One response to “Bisakah Indonesia Maju Seperti Jepang?

  1. Pingback: Perihal tugas makalah untuk mahasiswa : Bag ke-2, Tawaran Solusi « sketchmind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s